Apa Alasanmu Menulis

Kemarin habis membaca bukunya Andrias Harefa yang berjudul “Happy Writing”, saya beli di bazaar kantor cuma seharga Rp. 5000… aaah terlalu murah untuk buku yang bagus dan inspiratif sekali bagi penulis, yang sedang belajar menulis ataupun siapa saja yang ingin menjadi penulis.

Pada bab ke-11 yang berjudul ‘Dua Belas Alasan’ dibahas tentang apa saja alasanmu menulis yang terdiri dari 12 point yang sangat penting untuk tetap focus dan konsisten dalam menulis.

Membaca bab ini, saya jadi tergelitik dan termenung, kemudian bertanya pada diri sendiri, apa sebenarnya selama ini tujuan saya menulis ya, apa cuma menjalankan hobi, apa benar-benar ingin menjadi penulis atau cuma sekedar sarana curhat dan berbagi informasi saja.

Dan… setelah saya telaah kembali, mengumpulkan poin-poin alasan dan tujuan saya menulis yang selama ini ternyata saya sendiri tidak menyadarinya, terpendam dan tak terungkap. Berikut alasan dan tujuan saya punya :

1. Sebagai sarana ekspresi, aktualisasi dan eksistensi diri ;)

2. Berbagi informasi dan pengalaman

3. Menambah wawasan. Karena dengan menulis subject tertentu terkadang kita mau tidak mau dituntut untuk mengetahui informasi, data dan referensi.

4. Menajamkan intelegensi. Biarpun menulis asal-asalan tanpa memperhatikan kaidah bahasa, ketika ide mengalir, pasti ada waktu sekian detik atau menit dimana kedua saraf sensorik dan motorik kita bekerja begitu cepat, otak dan jemari berpacu menuangkan ide. Disaat itulah kita akan merasa bahwa pikiran ini begitu segar, mata awas, kepekaan tinggi. Syaraf otak berkembang membuat cabang.

5. Sebagai arsip pengalaman, ide dan perjalanan hidup.

6. Melatih kontrol emosi. Jika sedang bersedih atau takut, menulislah, niscaya kesedihanmu akan berkurang, hati dan pikiran menjadi lebih tenang.

7. Supaya ada kenangan. Dalam hal diri ini mengalami sesuatu kemudian ditulis, maka akan bisa menjadi kenangan dimasa yang akan datang. Selain agar diri ini juga bisa dikenang oleh anak cucu yang mungkin belum sempat bertemu kita namun tetap bisa mengenal kita walaupun hanya melalui tulisan.

Anda mungkin punya alasan maupun tujuan anda masing-masing, apapun itu pastilah sangat bermanfaat bagi (minimal) diri anda sendiri maupun orang lain.

Satu paragraf akhir dalam buku tersebut yang kata-katanya begitu menohok namun motivatif bagi yang punya banyak alasan untuk tidak menulis padahal ingin sekali menulis.

”Nah, kalau ada begitu banyak alasan untuk menulis namun Anda tetap tidak juga menulis, maka tinggal satu kata untuk itu : KETERLALUAN!!” (Andrias Harefa)

Tips ‘Nongkrong’ di Perpustakaan

perpus2

Lama tak mengunjungi perpus, serasa ada rindu yang menyerayap dalam diri… *saaaahhh. Bukannya sok kutu buku, tapi saya memang suka sekali nongrong di Perpus, tujuan utama memang biasanya mencari referensi tugas sekolah/kuliah, tapi killing time ketika harus menunggu sesuatu juga menjadi pilihan utama saya untuk bertapa di tempat ’ajaib’ ini.

Kenapa ajaib, karena

”Books make great gifts coz they have whole world inside. & it is much cheaper to buy somebody a book than it is to buy them the whole wolrd!” –Neil Gaiman-

And I fully agree with him, Perustakaan adalah ruangan yang paling banyak menyimpan manfaat. Disanalah terdapat banyak pintu-pintu ’ajaib’ yang membuat kita serasa keliling dunia. Dunia apa saja bisa kita temukan disana, mulai dari dunia science, agama, financial, sosial, fashion, sampai dunia percintaan. Meski mungkin, bagi sebagian orang perpustakaan adalah ruangan yang membosankan, sunyi, senyap, bau debu bahkan serem –Dan meski kadang benar serem si–, tapi aku tak peduli, lebih baik aku berkonsentrasi pada apa yang aku baca dan aku tulis. :)

Dan saya ada sedikit tips, supaya tetep betah berlama-lama di perpustakaan.

1. Daftarlah atau isilah buku tamu, dan bayarlah jika memang anda sebagai pihak yang diharuskan membayar. Kenakan ID khusus yang diberikan oleh pihak perpustakaan selama anda di dalam perpustakaan. Titipkan tas, gembolan, payung atau kantong kresek anda.

2. Agar cepat dan efektif, langsunglah menuju komputer atau buku katalog untuk melihat ketersediaan buku maupun referensi yang anda inginkan.

3. Gunakan kata kunci dari judul referensi yang anda inginkan, atau cantumkan pencarian berdasarkan nama pengarang. Pastikan anda sudah mengetahui referensi subject apa yang anda butuhkan.

4. Pilihlah posisi yang paling nyaman, yang paling pas pencahayaan, jangan menghadap ke tempat yang silau karena bisa mengurangi konsentrasi anda, dan jangan juga duduk di tempat yang gelap, karena nanti mata anda sakit. Duduklah pula di tempat yang tidak berhadap atau langsung dibawah AC, supaya tidak masuk angin.

5. Kalau anda ingin menggunakan laptop, carilah tempat duduk yang dekat dengan stop kontak, untuk menghindari habisnya batery laptop anda. Manfaatkan Wifi gratis kalau ada, mintalah address berikut passwordnya pada petugas perpustakaan.

6. Jika anda sendiri dan ingin belajar menjelang ujian, pilihlah meja yang sendiri-sendiri dan berbilik (kalau ada), hindari duduk di meja besar dengan banyak kursi & orang yang tidak dikenal, karena bisa mengganggu konsentrasi anda, apalagi kalau ada cewek cakep or cowok ganteng ;).

7. Apabila anda berdua atau berkelompok, janganlah berdiskusi sampai berisik menganggu pengunjung lain, bisa-bisa anda dilemparin pulpen sama Rangga. :p.

8. Letakan buku, majalah atau referensi di meja anda atau meja khusus untuk menaruh buku bacaan setelah dibaca. Taruh atau tumpuk yang rapih, biasakan, jangan berantakan serasa di rumah anda sendiri :p.

9. Kalau anda ingin meminjam referensi untuk dibawa pulang, daftarkanlah dulu, jangan dikentit :p, dan kembalikanlah tepat waktu untuk menghindari bayar denda.

10. Jangan lupa kembalikan ID khusus dan ambil kembali tas, gembolan, payung atau kantong kresek anda di tempat pendaftaran & penitipan.

Happy Reading Everybody :) :)

People, Us…

People come people go
People crying people smiling
People fall in love and broken heart

People confused when have to choose
People kind when they are fine
People neglect and no respect

People childish, act like a kids
People lying and acting
People believe when they achieved

People dreaming and hoping
People praying and bagging
People struggling not for nothing

That’s People, Us, somehow….

Pink Ribbon - October Breast Cancer Awareness month

pink_ribbon11

October might pass… But hope will never last…

Many women in this world died of breast cancer. My best friend, my mother in law, another special woman I love that I’ve never met. They had been struggling for their life, they had a spirit to keep seeing this world. But life wasn’t said so.

And for us, who still can see the rainbow, let’s carry their hope. Spread our spirit to prevent it, raise awareness and support the survivor. Together, we can help improve all our chances to fall victim to breast cancer. :)

- Menyusui -

A very special moment
Berjuta makna pada tatapannya
Menenangkan, meneduhkan
Romantisme Ibu dan anak

Perasaan itu yang aku rasalan ketika mulai menyusui. Kebahagiaan tak terhingga. Baru sekarang aku merasakan mukjizat dari ciptaaNYA ini. Aku yakin, memang tak mungkin Ia menciptakan sesuatu tanpa ada manfaatnya.

Tak peduli puting lecet, perih. Sakit seperti tertusuk jarum yang mengalir ke seluruh tubuh, dari tulang rusuk, ke kepala, hingga ke rahim. Begitu melihatnya tersenyum dan tertidur kenyang. Aaahh…. Rasanya terbayarkan lebih dari kesakitan itu.

(ngga mau) Batal Puasa

Ini cerita tentang Ramadhanku di masa kecil, begitu banyak kenangan-kenangan yang indah dan mengesankan yang tidak bisa aku lupa sampai sekarang. Yang terutama paling kuingat yaitu rutinitas bersama teman-teman dalam upaya menghabiskan waktu menunggu bedug magrib tiba.

Dimulai dari ba’da subuh, aku bersama rombongan krucil, perempuan dan laki-laki berkelana keliling RW, RW sendiri, RW tetangga, ngabuburit pagi sembari main petasan. Karena aku perempuan, cukup saja petasan cabe rawit dalam genggamanku, dan petasan jenis jangwe dan kawan-kawannya, adalah tugas teman laki-laki. Tujuan akhir kami adalah menuju “Jalan Baru” yaitu Jl.Proklamasi Depok 2 untuk ikut perang petasan. Tapi ahh… bagaimana mau ikut perang petasan, ternyata pesertanya kebanyakan anak remaja dan orang dewasa. Walhasil, grup krucil kami yang hanya bocah SD paling tua kelas 5 SD, akhirnya hanya menyaksikan saja dari kejauhan, sambil ngumpet-ngumpet dan sesekali ngibrit tunggang langgang kalau ada petasan nyasar ke arah kami. Jiaahhh….

Usai ‘perang petasan’, kami segera kembali ke rumah dan bersiap untuk tadarusan di rumah pak RT. Tadarusan selesai, lanjut dengan bermain gundu, ta’ jongkok ataupun permainan lain di lapangan, sampai matahari cukup terik jam 10-jam 11 barulah permainan kita akhiri. Bocah-bocah pulang ke rumah masing-masing, istirahat sebentar, kemudian setelah dzuhur ngumpul lagi di ‘pos’ rumah teman untuk main monopoli, ABC ada lima dasar, atau permainan lain yang bisa dilakukan di dalam ruangan. Ketika ba’da ashar tiba, kami kembali ke rumah pak RT untuk tadarusan lagi. Hingga menjelang magrib tiba.

Semua kegiatan itu begitu berkesan, dan kalau diingat-ingat lagi, begitu padatnya jadwalku waktu masih kecil dulu pas bulan puasa, tapi aku senang, itulah yang disebut masa kecil bahagia, begitu puas bermain, khususnya permainan tradisional, karena jaman dahulu (untungnya) belum ada video game atau game online. Aku dan –aku yakin- teman-teman seangkatanku jadi lebih bisa bersosialisasi dan mengekspresikan diri. Cieehh….

Dengan aktivitas segudang itu dengan umur dan fisik yang masih imut, tak jarang ibuku menawarkanku untuk berpuasa ½ hari saja. Waktu TK si iya, aku masih mau, tapi begitu masuk SD, hhmm…. NO WAY. Tekadku sangat kuat untuk menghabiskan puasaku hingga magrib. Suwerr dehh.

Pernah suatu hari, aku ingat pas kelas 2 SD, karena saking lelahnya main , pas jam 2 siang aku ngglepar kelelahan. Mata rasanya sepet, tenggorokan kering panas, badan lemes, muka pucet. Bukan karena sakit, tapi karena lapar dan haus menahan dahaga. Ibuku sangat khawatir, dia pikir aku sakit, berkali-kali beliau menyuruhku untuk buka, bahkan sampai disediain minum, tapi aku hanya menggeleng kepala, karena hanya itu yang bisa aku lakukan, saking lemesnya.

Kejadian itu tidak pernah aku lupa sampai sekarang. Bukan karena janji akan diberikan angpau 150 ribu dan baju lebaran 4 pasang kalau aku bisa puasa sebulan penuh sampai magrib, tapi karena aku merasa malu kalau ketauan teman-temanku kalau aku puasa ½ hari, semacam perasaan gengsi gituh, gengsi dan malu sama teman, sama guru ngaji, sama Allah (duh bocah sok tau, kaya udah ngerti ajah). Karena guru ngajiku selalu memberi nasihat tentang kenikmatan dan balasan bagi orang yang berpuasa, selalu bercerita tentang perjuangan Rasulullah dan para sahabat serta saudara-saudara semuslim yang tinggal di negeri Arab ketika berpuasa, dimana mereka tinggal di tanah yang sangat gersang sekali.

Apakah itu suatu pemikiran yang kompleks atau malah suatu pemikiran yang sangat sederhana sekali dari seorang bocah?!… Karena begitulah yang aku, dan aku yakin teman-temanku rasakan dan pikirkan. Berpuasa full sebulan hingga magrib begitu kuat terpatri dalam benaku, bagitu besar semangatku.

Karena berpuasa, ketika kita tahu apa tujuan dan makna di balik perintah tersebut serta balasan apa yang akan kita dapat baik di dunia maupun di akhirat, maka tak perlu menciptakan alasan untuk membatalkan ataupun untuk tidak melakukannya kalau bukan karena alasan yang mendesak. Tak peduli orang dewasa, ataupun anak kecil, dimanapun berada dan dalam keadaan apapun, semuanya bertujuan untuk menggapai RidhoNYA.

Saudaraku, semoga ibadah puasa kita hari ini, kemaren dan keesokan diterima oleh Allah SWT. Amin ya rabbal alamin

Alhamdulillah atas amanahmu ya Allah

bersyukur_muslim-300x225

Jadi teringat, Ramadhan tahun lalu, doa utama yang selalu kupanjatkan dengan khusyu’ adalah agar aku segera dikaruniai buah hati. Di setiap sujud terakhir, dalam doa ba’da shalat, dan tak lupa setelah doa berbuka puasa.

Berbagai upaya telah aku dan suamiku lakukan. Mengunjungi dokter, urut, pengobatan alternative. 1,5 tahun serasa waktu yang lama, rindu ini sudah menggebu, menanti kehadiran peneduh kalbu. Semua jalan kami coba tempuh. Tak ada alas an untuk berputus asa, karena teringat akan janjiNYA, bagi hamba yang tidak pernah merasa putus asa akan rahmatNYA.

Sungguh Allah yang mengetahui yang terbaik bagi hambaNYA, Allah maha mendengar doa hambaNYA. Sebulan setelah Ramadhan, aku dinyatakan hamil. Alhamdulillah wa syukurilah, syukur tak terhingga kupanjatkan. Air matapun tak terbendung, mengingat bayi di dalam kandung.

Hari-hari ku lalui, untaian dzikir yang mengiringi, sebagai teman si buah hati. Apapun kujaga, makanan, minuman, pikiran, fisik, semua demi kesehatan aku dan bayiku. Sembilan bulan memboyong sang janin, tak peduli rasa mual, pusing, berat, kaki dan wajah bengkak, badan melar. Semua kulalui, dengan tetap sabar dan ikhlas, dan itu pasti karena bimbinganNYA.

Tibalah moment yang dinanti, bayi suci lahir ke bumi. Tanggal 16 Juni 2011, berkat pertolongan Allah, aku melahirkan bayi laki-laki yang lucu dan Alhamdulillah sehat. Aki, nini, om, tante si bayi, bahkan teman-teman ayah dan ibu, semuanya berbahagia menyambut kehadirani cucu dan keponakan pertamanya.

Dzaki Ahmad Hakim, di dalam namamu terkandung doa-doa kami agar kau kelak menjadi anak soleh, terpuji, yang pintar, cerdas dan bijaksana. Kaulah pengobat rindu ayah dan ibu, kamulah ladang amal kami, kamu juga akan menjadi sumber syukur kami. Amin ya rabbal alamin.

Dan dalam Ramadhan tahun ini, alangkah bahagianya, sudah ada malaikat kecil yang membangunkan sahur. Sungguh, rasa syukur seperti apa yang patut ku panjatkan ya Allah. Berkata Alhamdulillah saja rasanya belum cukup.

Syukurku, akan kujaga amanah ini dengan baik, bimbinglah aku selalu ya Allah. Aku merasa, hidup ini semakin indah dan lebih bermakna, karena apa yang telah kau karuniakan kepada kami. Alhamdulillahi rabbil ‘alamiin.

Mengalami Baby Blues?!…

Baby blues, did I get this ?! Mungkin… hmmm… kaya’nya… sempet juga mengalami hal ini

Baby blues, adalah suatu kondisi dimana sang ibu baru mengalami stress pasca melahirkan. Umumnya terjadi selama 14 hari pertama dan cenderung lebih buruk di sekitar hari ketiga atau keempat setelah melahirkan. Penyebabnya bisa bermacam-macam, secara fisik bisa jadi karena ibu masih merasa kelelahan setelah persalinan baik normal maupun cesar. Disamping itu baby blues juga bisa terjadi karena adanya perubahan hormon hingga mempengaruhi perasaan sang ibu. Secara psikologis hal ini bisa terjadi karena Ibu merasa khawatir akan keberhasilannya menjadi Ibu, merasa tak mampu memberikan asi, panic melihat bayi rewel dan menangis terus menerus.

Baby Blues, perasaan mengharu biru, aku tahu istilah itu, tapi itu suatu kondisi yang aku yakin tidak akan dan tidak ingin mengalaminnya. Entah kenapa, yah, mungkin karena aku sudah merasa kelelahan setelah kontraksi selama 15 jam hingga terakhir sampai pembukaan 4, kepala bayiku sudah kaput (lonjong di atas akibat kontraksi namun jalan beum terbuka) dan akhirnya diputuskanlah untuk melakukan operasi cesar. Ketika keputusan it u diambil pun perasaan sudah ngga karuan, hanya bisa menangis, sampai-sampai aku kehilangan momen IMD (Inisiasi menyusui Dini) dimana setelah bayi dilahirkan langsung ditempelkan ke dada ibu untuk mencari putting, sementara waktu itu sang suster hanya menempelkan pipi bayiku ke pipiku, hangat… lumayan bisa mengobati perasaan stresku. Setelah aku sadar, Dokter bilang IMD waktu itu tidak mungkin karena Ibunya dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar dan gemeteran. (iya… karena ngantuk berat & kena pengaruh obat bius, gemeteran juga karena kedinginan di ruang operasi :p)

“… Am I still got the blues for you…” (Song by Gary moore)

Hari pertama hari kedua masih baik-baik saja, meskipun kondisi fisik masih lemah dan bawaannya ngantuk da sedikit rada demam, mungkin karena kurang tidur. Hari ketiga, tengah malam tiba-tiba suster bilang anaku demam dan harus diberi banyak cairan alias harus banyak mimik. Mungkin karena aku demem jadi asiku sedikit, belum lagi puting lecet terasa sakit dan perih. Tiba-tiba, datanglah perasaan itu, aku merasah sedih banget, merasa kasihan dengan sang baby tapi dengan kondisiku yang kurang baik juga, aku tidak bisa memberikan yang terbaik baginya, yaitu ASI ku. Tangis pun meledak, dan sangat terpaksa akhirnya aku memutuskan untuk memberikan susu formula dengan persetujuan suamiku.

Keesokan aku baru sadar… Ooo my God, What was happened to me last night? Did I get baby blues?! Aku tahu suamiku tercinta memberikan dukungan dan nasihat padaku, tapi sepertinya yang aku rasakan waktu itu…
“I don’t care about the others, about what they said, cos you don’t know how it fees. This is all about me and my baby, this is my failure.”

Setelah inget-inget lagi perasaan itu… iiiihhh serem… betapa bahayanya baby blues syndrome, tapi Alhamdulillah, untung saja Allah masih melindungiku, di hari keempat aku merasa jauh lebih baik dan asiku sudah kembali lancar.

Baby blues, memang bisa saja terjadi pada Ibu yang baru saja melahirkan, tidak peduli anak pertama atau kesekian. Yang membedakan mungkin kadar dan waktu terjadinya. Dalam hal ini dukungan dari orang-orang terdekat khususnya suami sangat dibutuhkan. Bila perlu, ajak suami berdiskusi tentang kondisi terburuk ini, dan bagaimana nanti harus mengatasinya. Dengan bersyukur, mengingat-ngingat karunia yang diberikan oleh Allah SWT atas keselamatan bayi ini, mungkin bisa menjadi obat mujarab juga buat gejala baby blues dan yang tak kalah penting adalah Ibu harus banyak-banyak beristirahat, ikutlah tidur ketika bayi tertidur, dan jika ingin menangis karena letih, menangislah kalau memang itu bisa mengurangi beban ibu, tapi harus diingat batasannya, jangan sampai berlarut-larut.

Well mom, let’s remember we have delivered amazing creature thing to this world, a million dollar smile, a blessed from God :).

Mudah-mudahan next ga mengalaminya lagi.. Amin :)

Ref :
infoibu

The Last Trimester

Tak terasa 6 bulan sudah berlalu, perasaan nervous pelan-pelan sudah mulai menyusup di hati menyambut kedatangan si buah hati. Normal or Cesar ?!…. pertanyaan itu sudah bermain-main di benak. Tapi tetep ah, insyaallah aku tetap berdoa untuk perjalanan yang normal-normal saja, namun tidak ingin juga terlalu saklek, karena apapun bisa terjadi nanti, dan aku hanya pasrah kepada Allah SWT, karena DIA lah yang maha mengetahui apa yang terbaik bagi hambanya. Amin….

Di trimester terakhir ini, biarpun sudah rada-rada nervous tapi aku tetap merasa enjoy. Menikmati tendangan & gerakan baby ku yang semakin hari semakin ‘ajaib’, karena aku bisa merasakan ketika dia senang diajak bermain ‘klitik-klitikan’, diajak ngobrol, menyanyi dan berdoa. Atau ketika dia gelisah dan aku usap-usap sambil di sayang-sayang supaya babyku lebih tenang hingga tertidur.
Aku merasa, baby ku semakin pintar berinteraksi 

Yang namanya ibu hamil, mau berapapun umur kandungannya masih tetap saja suka mengalami gangguan. Kadang bisa jadi bahaya, ataupun cuma sebatas menyebabkan rasa tidak nyaman bagi sang ibu, di trimester terakhir ini aku pun sempat mengalaminya. Apa saja itu, monggo disimak, siapa tahu bisa jadi bahan sharing :)

MABOK LAGiii….
Memasuki awal trimester terakhir aku sempat merasakan mual-mual lagi yang sempat menyiksa. Tapi lucunya, perasaan ngidam, gejolak untuk memakan makanan tertentu terasa semakin besar, dan kalau ngga keturutan kayanya sediihh or sebbheelll banget…. hiks hiks.

FLEK
Pernah suatu hari, ketika aku sedang bekerja, project mengadakan meeting selama setengah jam dilakukan dengan berdiri. Tak sampai setengah jam, tiba-tiba aku merasa sakit, perih di sekitar saluran rahim. Karena cuma ada meja, dengan terpaksa aku duduk di atasnya, dan karena kekerasan dan kekakuannya itu, bukannya merasa baikan malah aku merasa semakin sakit. Ketika meeting usai, aku pergi ke toilet. Terkejut dan takut, ketika aku menemukan ada bercak kemerahan pada underwear ku. Seketika aku menangis karena panik dan kesakitan. Rasanya ampun deh sakit banget… aku bawa duduk salah, tiduran salah… sampai-sampai aku berpikir, jangan-jangan aku mau melahirkan, aduh semakin panik lagi karena kandunganku waktu itu masih berumur 7 bulan.

Teman-teman yang sudah berpengalaman dengan masalah ini dan juga ibuku mencoba menenangkanku dan menyuruhku tiduran dengan diangkat kaki, lumayan sii… tapi abis itu tetep aja sakit terus. Akhirnya aku memutuskan bedrest sendiri 1 hari, karena jadwal dokterku baru ada lusa nya. Dan selama masa penantian itu, memang sudah tidak timbul lagi flek kemerahan, tapi aku masih tetap merasakan nyeri sekali.

Ketika tiba hari periksa ke dokter, dokterku bilang telah terjadi infeksi saluran rahim, dan memang terjadi pendarahan disekitarnya, merah, seperti darah haid. Beliau memberiku antibiotik yang harus habis dalam waktu seminggu. Dan Alhamdulillah pas cek up di minggu berikutnya aku sudah merasa sembuh dan tidak merasakan nyeri-nyeri lagi. Sepertinya, kalau fleknya berwarna kecoklatan dan biasanya tanpa rasa sakit atau nyeri di sekitar rahim atau saluran rahim, bisa jadi hal itu disebabkan karena kecape’an, dan bisa cukup dihilangkan dengan bedrest selama minimal satu hari tanpa harus konsultasi ke dokter, namun, ketika flek itu berwarna kemerahan atau malah keluar darah (bleeding)… nahhh ini yang harus diwaspadai dan wajib diperiksakan ke dokter, karena itu bisa jadi tanda awal keguguran atau barangkali ada yang terluka dan terinfeksi. Well, ini si berdasarkan analisa ku aja secara empiris dari pengalaman bumil-bumil. Betul tidak ya ?…

KEPUTIHAN
Pas ngeliat ada bercak putih yang jumlah dan teksturnya tidak wajar aku sempat stress. Ya Tuhan apalagi ini… apakah ini normal-normal saja dialami Ibu hamil menjelang hari-H. Dan tambah stress lagi ketika keesokan bercak itu berwarna kehijauan, sungguh suatu pemandangan yang menegangkan buatku. Begitu aku konsultasikan ke dokter, beliau menyarankan aku untuk mengetes lab sample keputihanku, untuk mengetahui apakah itu jamur atau bakteri. Dan bu dokter memberiku obat, yang harus dimasukan melalui vagina…. (iiihhhggghhh). Tapi baru 2 kali aku pakai, syukurlah keputihan tersebut hilang, dan berdasarkan hasil Lab, memang ada jamur dalam jumlah sedikit, tapi kalau sudah bersih tak perlu dikhawatirkan lagi. Begitu kata bu dokter.

Selain berobat, aku juga coba cari wangsit ke mbah google. Ternyata memang bukan aku saja yang pernah mengalami hal itu, keputihan yang berwarna kehijauan, banyak ibu hamil yang pernah mengalaminya, khususnya di trimester terakhir menjelang melahirkan. Bagi sebagian, mungkin menganggapnya biasa dan meng ignore gangguan tersebut. tapi sebagian lagi merasa khawatir dan memilih untuk mengkonsultasikan ke dokter, dan aku termasuk golongan kedua ini. Ternyata benar saja, masalah keputihan menjelang kelahiran memang tidak bisa lalaikan begitu saja. Ketika keputihan itu terasa tidak wajar dan berlebihan baik dari segi warna, jumlah maupun tekstur, maka sebaiknya dikonsultasikan ke dokter. Karena jika tidak, bisa saja keputihan tersebut berasal dari bakteri, jamur ataupun virus, yang dapat menghalangi bahkan membahayakan sang janin apabila janin tersebut ataupun jalan kelahirannya terinfeksi.

BENGKAK
Perut membengkak… ya iyaa laa, ibu hamil… :p. Badan membengkak… juga masih wajar, karena si Ibu mamam teyuss. Tapi ini, kaki bengkak kaya di antup semut bako’ (semut hitam besar), rasanya kemeng seperti ada beban berat menggelayut ketika kaki melangkah. Penyebabnya karena rahim yang membesar hingga menekan pembuluh darah atau karena pertambahan berat bada Ibu yang mempengaruhi sistem tubuh secara keseluruhan. Dokterku menyarankan untuk mengurangi makan garam dan banyak mengkonsumsi putih telur paling tidak 3 butir sehari. Apabila Ibu bekerja di kantor yang banyak menghabiskan waktu dengan duduk di depan komputer, sesekali beranjak dan jalan-jalan selama beberapa menit, atau siapkan footrest dengan posisi duduk selonjoran supaya aliran air/darah lancar.

Hmmm… apalagi ya… . so far itu saja yang aku alami dan cukup mengganggu, mudah-mudahan disisa hari-hari kedepan hingga hari-H, bisa sehat wal afiat tidak mengalami gangguan lain lagi, dan bisa tetep lancar melahirkan. Amiin ya rabbal alamin :)

Ngidam, Beneran Ada ga sih?

Sebagian, bahkan banyak orang di jaman sekarang ini sudah tidak percaya lagi dengan istilah ngidam yang dialami oleh Ibu hamil. Rupanya sambung menyambung slogan “Ngidam tidak ada dalam dunia kedokteran” sudah merajalela dikalangan calon ayah ibu, dan khususnya, terpatri lekat dalam benak sang ayah, no offens, mungkin karena pihak calon ayah yang merasa dirugikan ketika istrinya ngidam… :p.
Padahal, ada atau tidaknya istilah itu secara ilmiah, tetap saja dari jaman baheula sampe sekarang, dari ujung dunia timur sampai barat masih banyak Ibu-ibu yang mengalami apa yang di sebut ngidam.
Tanpa tahu asal-muasal, sabab musabab terjadinya ngidam, bisa jadi keduanya (calon ayah dan Ibu) memiliki interpretasi yang berbeda-beda dan menanggapinya dengan cara yang berbeda-beda pula. Untuk itu, sebelum menyimpulkan sesuatu, ada baiknya mencari tahu dulu apa sebenarnya itu ngidam.

Ngidam, cara tubuh Ibu Hamil Berkomunikasi
Ngidam bisa diartikan sebagai sesuatu (makanan) yang sangat didambakan. Menurut seorang dokter ahli kandungan dr. Kartiwa Hadi Nuryanto, Sp.OG, ketika seorang wanita hamil menginginkan makanan tertentu yang biasanya tidak disukai, hal itu bisa dianggap wajar dan normal.
Hal itu disebabkan karena saat hamil hormon dalam tubuh sang Ibu bekerja dengan keras, yang bisa menyebabkan rasa mual dan pusing, khususnya di awal-awal masa kehamilan, dari situlah keinginan untuk makan makanan tertentu timbul. Secara psikologis, seseorang ketika tidak dalam keadaan hamil pun, ketika mengalami gangguan pusing dan masuk angin, seringkali muncul keinginan untuk makan makanan tertentu kan?!… makan yang seger, pedes-pedes, atau yang asem-asem misalnya. Apalagi si Ibu hamil.
Uniknya lagi, tak hanya makanan saja lho, Ibu hamil tertentu kadang-kadang ada yang ngidam benda-benda tertentu, seperti senang mencium bau besi, atau bau tanah.
Nah, semua keinginan yang besar itu, konon disebabkan karena tubuh kekurangan zat-zat tersebut. Ketika senang mencium bau besi, saat itu mungkin tubuh sang Ibu kekurangan zat besi, ketika ingin rujak, tubuh sang Ibu sebenarnya membutuhkan vitamin-vitamin yang berasal dari buah-buahan tersebut.
Ngidam, bisa jadi merupakan cara tubuh ibu hamil berkomunikasi tentang zat-zat yang dibutuhkan oleh tubuh selama masa kehamilan.

Asal Usul Ngidam

Masih tidak percaya soal ngidam?!… eitt, tenang, jangan buru-buru… mari kita lihat beberapa faktor yang mempengaruhi eksistensi perasaan ini, and how to deal with this
1.Mitos – budaya
Apakah hanya Ibu-ibu di Indonesia saja yang mengalami ngidam?! Ahhh ngga juga.. kata siapa. Seorang rekan kerja saya yang berasal dari negara tetangga pun mengalami hal yang sama, pengen makan yang asem-asem, ketika kami hamil berbarengan. Atau, coba tanya mbah google tentang ”Food cravings during pregnancy”, don’t be surprised if you’ll find a million articles about this :).
2.Sugesti
Sebagian orang, khususnya orang terdekat dengan Ibu hamil, yaitu suami, seringkali menganggap Ibu hamil yang ngidam hanyalah sebatas sugesti sang Ibu saja. Well, ketika Ibu menginginkan sesuatu yang dianggap aneh, jarang bisa ditemukan, atau ngidam di tengah malam, dan merengek ketika tidak terpenuhi, bisa jadi pertanda, ini memang sebatas sugesti, atau mungkin sang Ibu yang lebay. Tapi ketika semuanya masih bisa dipenuhi, cobalah menurutinya, daripada anaknya annti ngeces… :p.
3.Ngidam karena Kebutuhan
Seperti kata sang ahli, kemungkinan tubuh sang Ibu memang sedang membutuhkan zat-zat dari makanan yang diidamkannya. Maka Ibu, bicaralah pada tubuh, ingat-ingat kembali kapan terakhir kali Ibu memakan-makanan ini, apakah Ibu benar-benar membutuhkan, atau hanya sekedar sugesti saja.

Ngidam Dengan Bijak
Dengan membaca, bertanya-tanya, dan membuka hati dan pikiran untuk mendapat pengetahuan tentang ngidam, mungkin gejala ini bisa lebih dikompromikan lagi oleh calon orang tua. Agar Ibu tidak lebay sewaktu ngidam, dan agar ayah juga tidak frontal untuk tidak memenuhi keinginan Ibu :).
1. Affirmation
Penguatan pikiran. Semuanya bisa berasal dari pemikiran. Ketika pertama kali mengetahui kehamilan, ada baiknya sang Ibu sudah mengantisipasi tentang kondisi ngidam yang akan dialami di hari, atau minggu berikutnya. Untuk menghidari ngidam yang berlebihan, sebaiknya Ibu menguatkan pikiran untuk menentukan pakem-pakem tertentu ketika ngidam nanti. Berkomunikasilah dengan tubuh, dengan dede, misalnya ”Dede, kalau mau makan-makanan tertentu jangan yang aneh-aneh ya, yang gampang dicari sama ayah. Terus, kalo ngga ditawarin makanan sama orang, ga boleh minta-minta ya, dede kan anak pinter”.

2.Hanya asupan yang sehat
Salah satu pakem ngidam yang baik bagi Ibu dan bayi tentulah makanan atau minuman yang sehat-sehat saja. Moso’ Ibu hamil ngidam minum wine, atau pengen makan bakso pake saos jorok yang terbuat dari cabe busuk, hmmm… mungkin ini hanya sebatas keinginan si Ibunya saja. Oleh karena itu, yang sekiranya tidak sehat, mohon Ibu bersabar untuk tidak mengkonsumsinya, demi kesehatan si jabang bayi.

3. Pikirkan Alternatif
”Duuhh… pengen es campur deh yah” rengek si Ibu ke ayah. Sambil garuk-garuk kepala yang bukan disebabkan oleh ketombe maupun kutu yang menggigit di tengah malam yang gelap gulita, sang ayah kebingungan mau cari dimana.
Nahh, daripada kelimpungan nyari dan udah yakin bakalan susah dapet, dalam hal ini diperlukan kepintaran sang ayah untuk mencari-cari alternative minuman lain kalau-kalau es campur tidak ada. Misalnya dengan membelikan jus buah yang bisa dibeli di supermarket 24jam, namun hal itu perlu dibicarakan dahulu secara baik-baik, daripada dibeliin tapi ngga diminum. Dan akan lebih baik lagi, jika si Ibu dahulu yang memikirkan alternative asupan lain jikalau yang diinginkan tidak bisa terpenuhi.

So, calon ayah dan Ibu?! Masih percaya atau tidak percaya tentang persoalan ngidam?! Silahkan didiskusikan masing-masing :).